Gaji Bersih Kota Dunia: Jakarta Terpuruk, Zurich Melangit

KEPRI TIME – Jurang pendapatan antarkota besar dunia masih menganga lebar. Data terbaru menyodorkan fakta pahit, Kota Jakarta yang menjadi mesin pertumbuhan ekonomi ternyata tak selalu menjamin gaji pekerjanya tebal.

Temuan itu muncul dari perbandingan rata-rata gaji bulanan setelah pajak di 69 kota metropolitan dunia pada 2026. Hasilnya? Ketimpangan upah global tak sekadar lebar, melainkan menganga.

Kairo, Mesir, menempati dasar klasemen. Pekerja di ibu kota Mesir itu hanya mengantongi pendapatan bersih rata-rata sekitar US$220 per bulan. Angka itu menjadi yang terendah di antara seluruh kota yang disurvei.

Jakarta menyusul di posisi kedua. Rata-rata gaji bersih pekerja di ibu kota Indonesia ini sebesar US$426 per bulan. Padahal, Jakarta menjelma sebagai salah satu pusat ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Aktivitas bisnis tumbuh pesat.

Namun, pendapatan rata-rata pekerjanya tetap jauh tertinggal dibandingkan kota-kota metropolitan global lainnya.

Manila, Filipina, menempati urutan ketiga dengan pendapatan bersih rata-rata US$471 per bulan. Kota ini memang menjadi pusat ekonomi dan layanan bisnis Filipina. Sayangnya, upah rata-rata pekerja masih belum beranjak dari kelompok bawah.

BACA JUGA:  Krisis Komponen Ubah Strategi Apple: iPhone 18 Pro Didahulukan, Model Standar Mundur ke 2027

Delhi, India, menyodok di posisi keempat. Rata-rata gaji bulanan setelah pajak di kota itu mencapai US$538. Sebagai salah satu kawasan metropolitan terbesar di dunia, Delhi masih berkutat di kelompok upah rendah.

Rio de Janeiro, Brasil, mengikuti dengan pendapatan bersih rata-rata US$594 per bulan. Kota wisata dan budaya yang terkenal itu menghadapi jurang besar antara sektor ekonomi formal dan informal.

Bangkok, Thailand, menempati posisi keenam. Rata-rata gaji bersih di ibu kota Thailand ini sebesar US$623 per bulan. Ekonominya memang berkembang.

Namun, pendapatan rata-rata pekerja masih kalah jauh dari Singapura, Seoul, maupun Tokyo.

Bogotá, Kolombia, berada di urutan berikutnya dengan rata-rata gaji bulanan setelah pajak US$718. Ibu kota Kolombia ini menjadi pusat pemerintahan dan ekonomi nasional.

Meski begitu, upah pekerjanya masih tertinggal dibandingkan banyak kota besar dunia.

BACA JUGA:  JNE Dukung UMKM Melek AI di AIM ASEAN Roadshow Tanjungpinang

Mumbai, India, mencatat rata-rata pendapatan bersih US$777 per bulan. Kota ini menjadi pusat keuangan India sekaligus rumah bagi industri hiburan Bollywood.

Sektor ekonominya bernilai tinggi. Akan tetapi, biaya hidup dan ketimpangan ekonomi membuat rata-rata pendapatan pekerja tetap rendah.

Santiago, Cili, menyusul dengan gaji bersih rata-rata US$798 per bulan. Kota ini tergolong paling maju di Amerika Latin.

Ekonominya lebih stabil dibandingkan banyak kota regional lainnya. Namun, kesenjangan pendapatan tetap terasa jika dibandingkan dengan pusat ekonomi dunia.

Bangalore, India, melengkapi daftar 10 besar kota dengan gaji terendah. Rata-rata pendapatan bersih di kota itu US$804 per bulan.

Dikenal sebagai pusat teknologi dan startup India, Bangalore menjadi potret kontras industri modern tumbuh pesat, tetapi pendapatan rata-rata masyarakat masih di bawah standar.

Kesenjangan itu kian telanjang ketika dikomparasikan, dengan kota berpenghasilan tertinggi.

Zurich, Swiss, memimpin daftar dengan rata-rata gaji bersih US$8.363 per bulan. Angka itu hampir 38 kali lipat Kairo. Sementara itu, San Francisco berada di posisi kedua dengan pendapatan rata-rata US$7.601 per bulan.

BACA JUGA:  Menanti Pidato Prabowo, IHSG Terjepit di Zona Sideways

Data ini membandingkan rata-rata gaji bulanan setelah pajak di 69 kota besar dunia pada 2026. Seluruh nilai dikonversi ke dolar Amerika Serikat (USD).

Sumbernya data Numbeo, yang dipublikasikan melalui laporan perbandingan harga global Deutsche Bank.

Perhitungan hanya mencerminkan pendapatan bersih rata-rata pekerja. Indikator biaya hidup dan tingkat daya beli tidak dimasukkan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *