Porprov VI Kepri 2026: Jujitsu Tumbuh, Regenerasi Berjalan

KEPRI TIME – Cabang olahraga jujitsu kembali tampil pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kepulauan Riau 2026. Ini menjadi penampilan kedua jujitsu di ajang multi-event provinsi tersebut setelah debut pada 2022 lalu.

Apa yang membuat kehadiran jujitsu kali ini berbeda? Partisipasi daerah peserta mengalami perluasan. Kabupaten Karimun bergabung, menambah jumlah peserta menjadi lima kota/kabupaten, yakni Batam, Tanjungpinang, Lingga, Bintan, dan Karimun.

Siapa yang menyoroti perkembangan ini? Ketua Umum Pengurus Provinsi Jujitsu Kepulauan Riau, Oji, menilai persaingan pada Porprov kali ini semakin ketat seiring penyebaran kekuatan atlet yang semakin merata.

“Artinya, perjuangan atlet meraih titel juara pada Porprov kali ini makin berat,” ujar Oji kepada wartawan.

Natuna dan Anambas memang belum mengirimkan atlet. Namun, Oji menilai Porprov kali ini tetap kompetitif dan telah memenuhi syarat keikutsertaan.

“Ini telah memenuhi syarat, karena untuk ikut Porprov di Kepri, minimal jujitsu sudah berkembang di empat kota/kabupaten dan telah terbentuk kepengurusan,” jelasnya.

Kepri memiliki tujuh kota/kabupaten. Dengan terbentuknya kepengurusan di minimal empat daerah, syarat cabang olahraga jujitsu untuk tampil di Porprov pun terpenuhi.

BACA JUGA:  Juara ASEAN Saja Tak Cukup, Herdman Bidik Amunisi Baru

Bagi perkembangan sebuah cabang olahraga, bertambahnya daerah peserta bukan sekadar urusan jumlah kontingen. Hal ini juga menandakan pembinaan mulai berjalan di lebih banyak wilayah.

“Hal itu juga menunjukkan bahwa pembinaan mulai berjalan di lebih banyak wilayah dan membuka kesempatan bagi atlet untuk berkembang melalui kompetisi resmi,” kata Oji.

Wajah Baru di Atlet Jujitsu di Porprov VI Kepri 2026

Porprov Kepri 2026 juga menghadirkan banyak wajah baru. Kehadiran mereka dinilai penting bagi regenerasi atlet jujitsu Kepri.

“Kita juga memerlukan bibit-bibit baru yang mendapat kesempatan berlatih, bertanding, dan meningkatkan kemampuan secara bertahap,” jelas pria kelahiran 6 Juni 1982 ini.

Karena itu, pekerjaan rumah pembinaan tak berhenti selepas Porprov. Tantangan berikutnya adalah memastikan atlet tetap berlatih di dojo masing-masing, mendapat pendampingan pelatih, dan memiliki agenda kompetisi berkelanjutan.

Sebagai Ketua Umum Pengprov Jujitsu Kepri, Oji memandang perkembangan jujitsu tak seharusnya hanya diukur dari prestasi pertandingan. Meski hal itu sangat membantu mempercepat jujitsu dikenal masyarakat luas.

Dua medali pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI/2024 menjadi bukti keseriusan pembinaan. Medali perak dan perunggu yang masing-masing diraih Danang dan Tomi itu tak datang mudah.

BACA JUGA:  Misi Lingga di Porprov VI Kepri 2026: Turunkan 238 Atlet Demi Target Emas

“Tak mudah meraih medali di ajang PON. Untuk dinyatakan lolos bertanding pada PON itu, atlet harus melalui babak kualifikasi,” jelas Oji.

Tak heran, banyak atlet atau cabang olahraga yang bahkan tak mampu meloloskan satu atlet pun ke PON.

Sebagai pelatih kepala jujitsu Kepri untuk berbagai agenda nasional multi-event, single-event, maupun kejuaraan open Oji terlibat menyiapkan atlet agar mampu bersaing di tingkat lebih tinggi.

Namun, pembinaan atlet hanyalah satu sisi. Oji juga mengembangkan jujitsu untuk kebutuhan pelatihan militer. Ia dipercaya menjadi pelatih kepala pelatihan jujitsu bagi personel TNI AD di Yonif TP 849/BS, Lingga.

“Dalam konteks militer, materi latihan dapat diarahkan pada penguasaan teknik pertahanan diri, kontrol lawan, kemampuan menghadapi situasi jarak dekat, serta pengambilan keputusan di bawah tekanan, sesuai kebutuhan dan standar pelatihan satuan,” jelas Oji.

Di luar lingkungan militer, pengembangan jujitsu menyentuh sektor keamanan profesional. Oji menjadi pelatih kepala dojo khusus personel security PT Bhakti Tidar Nusantara (Bhatara), serta membina dojo lainnya.

BACA JUGA:  Roberto Carlos, Kaki Kiri Real Madrid Dikabarkan Masuk Islam

Ia juga pernah melatih jujitsu di Kantor Bakamla Zona Maritim Barat hingga 2019, di lingkungan Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK), security Pelabuhan Internasional Batam Centre, dan security Putra Tidar Perkasa (PTP) perusahaan jasa pengamanan.

Pengalaman itu memperlihatkan bagaimana teknik beladiri disesuaikan dengan kebutuhan peserta. Atlet butuh kemampuan berkompetisi. Personel militer butuh keterampilan relevan dengan tugasnya. Petugas keamanan butuh penguasaan kontrol dan prosedur penanganan situasi sesuai kewenangannya.

“Tentu saja, setiap program harus tetap memperhatikan keselamatan, proporsionalitas penggunaan kekuatan, dan standar operasional yang berlaku,” ucapnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *