GMP 2026: UMKM Kepri Naik Kelas, Budaya Melayu Jadi Mesin Ekonomi

KEPRI TIME – Gebyar Melayu Pesisir (GMP) 2026 Provinsi Kepulauan Riau resmi dibuka. Pemukulan gendang menandai dimulainya perhelatan untuk UMKM naik kelas, yang digelar di K-Square Mall, Batam, Rabu (16/9/2026).

Acara ini menjadi ruang sinergi Bank Indonesia (BI), Pemerintah Provinsi Kepri, Dekranasda, dan berbagai pihak untuk mendorong Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) naik kelas.

Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, membuka GMP 2026 secara virtual. Dalam sambutannya, Destry menegaskan bahwa GMP tahun ini tidak sekadar ajang promosi.

Lebih dari itu, ia mengarahkan agar GMP meningkatkan transaksi, memperkuat UMKM, dan mendorong pertumbuhan bisnis di Kepulauan Riau.

“Di tengah ketidakpastian ekonomi global, potensi ekonomi Kepri perlu terus kita tingkatkan,” ujar Destry.

Data membuktikan. Hingga Juli 2026, sebanyak 96 persen pelaku usaha di Provinsi Kepri merupakan UMKM. Sementara itu, transaksi melalui QRIS Cross Border telah mencapai Rp170 miliar. Angka itu menunjukkan geliat UMKM Kepri menembus pasar internasional.

Bank Indonesia, kata Destry, terus berkomitmen mengimplementasikan QRIS antarnegara. Bersama pemerintah daerah, BI akan melakukan program pendampingan yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing daerah.

Pendampingan itu juga menyasar calon pembeli dari luar negeri. Tujuannya jelas: agar transaksi tidak berhenti pada satu kali pembelian, tetapi dapat berulang.

BACA JUGA:  Prabowo Copot Purbaya, Suahasil Nazara Naik Jadi Menkeu

“Saya apresiasi BI Kepri terus bersinergi menjaga inflasi. Semoga kolaborasi ini makin erat. Dengan Bismillah, saya buka Gebyar Melayu Pesisir 2026,” kata Destry.

Pantauan di lokasi, GMP dimeriahkan sejumlah UMKM. Baik di dalam maupun di luar mal. Mulai dari UMKM makanan, minuman, kriya, tekstil, dan lain sebagainya.

UMKM sebagai Motor Ekonomi Penyeimbang

Kepala Perwakilan BI Provinsi Kepri, Rony Widijarto Purubaskoro, mengatakan pelaksanaan GMP merupakan bentuk nyata sinergi dan kolaborasi antara BI, Pemprov Kepri, Dekranasda, dan seluruh pihak dalam mengembangkan UMKM.

Ia juga mengapresiasi kehadiran para tamu undangan, yang dinilai menunjukkan dukungan terhadap pembangunan UMKM di Kepri.

“Pergi berlayar ke Pulau Penyengat, singgah ke pantai bermain pasir. Bapak Ibu kami sambut dengan hangat, selamat datang di Gebyar Melayu Pesisir,” kata Rony.

Menurut Rony, GMP telah memasuki penyelenggaraan ketujuh. Tahun ini, GMP diikuti oleh tujuh kabupaten/kota di Provinsi Kepri. Ia menilai UMKM memiliki peran strategis dalam perekonomian Kepri.

Selain memiliki posisi geografis yang dekat dengan jalur perdagangan internasional, Kepri juga mempunyai berbagai sumber pertumbuhan ekonomi yang potensial.

BACA JUGA:  Saham Gudang Garam Merah di Tengah Amblesnya IHSG

Namun, tantangan perekonomian masih tetap ada. Salah satunya terkait penyerapan tenaga kerja. Rony menyebut pertumbuhan industri menjadi salah satu penopang utama tingginya pertumbuhan ekonomi Kepri.

Namun, pertumbuhan tersebut dinilai belum sepenuhnya mampu memberikan kesempatan kerja yang memadai. Akibatnya, tingkat pengangguran masih menjadi salah satu tantangan yang perlu diperhatikan.

Dalam kondisi tersebut, UMKM dinilai dapat menjadi salah satu motor ekonomi penyeimbang.

“UMKM tentunya mempunyai daya serap untuk lapangan kerja yang tinggi, adaptif, dan itu bisa memperbaiki tantangan di dalam penyerapan tenaga kerja,” ujarnya.

Karena itu, menurut Rony, tantangan berikutnya bukan sekadar memperbanyak jumlah UMKM.

Melainkan, bagaimana mendorong UMKM tersebut naik kelas sehingga mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih besar.

Ia mengatakan jumlah UMKM di Kepri maupun secara nasional sangat besar. Namun, besarnya jumlah tersebut belum sepenuhnya seimbang dengan nilai tambah yang dihasilkan.

Salah satu potensi yang dapat menjadi pembeda UMKM Kepri, kata Rony, adalah kekayaan warisan budaya Melayu.

Ia menilai, warisan budaya Melayu memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi sumber nilai tambah melalui industri kreatif.

Hal tersebut juga berkaitan dengan sejarah budaya Melayu, yang memiliki peran penting dalam perjalanan bangsa, salah satunya melalui bahasa.

BACA JUGA:  Rupiah Hari Ini Terus Menyusut, Geopolitik dan Inflasi AS Jadi Penentu

“Begitu banyak nilai-nilai warisan budaya yang ini bisa menjadi potensi untuk nilai tambah, karena industri kreatif itu adalah industri yang menciptakan nilai tambah,” katanya.

Karena itu, GMP 2026 memberikan penekanan pada penguatan warisan budaya Melayu menuju transformasi ekonomi Kepri yang inklusif dan berkelanjutan.

Menurut Rony, warisan budaya tidak cukup hanya dipelihara secara pasif. Potensi tersebut perlu dikembangkan agar mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.

Ia mencontohkan potensi budaya dan produk kerajinan yang ditemuinya saat melakukan kunjungan ke sejumlah daerah di Kepri, termasuk Lingga yang dikenal sebagai salah satu pusat budaya Melayu serta Natuna dan daerah lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *