KEPRI TIME – Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi utang luar negeri (ULN) RI (Republik Indonesia) menembus US$453,4 miliar per Juli 2026. Dengan kurs JISDOR 30 Juli 2026 sebesar Rp18.058 per dolar AS, angka itu setara Rp8.211,8 triliun.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Indrayana mengungkapkan, posisi ULN tersebut tumbuh 4,9% secara tahunan (year on year/YoY).
“Perkembangan ini terutama dipengaruhi oleh peningkatan ULN publik di tengah penurunan ULN swasta,” jelas Denny dalam keterangannya, Selasa (15/9/2026).
Secara terperinci, ULN publik tercatat US$218,4 miliar atau tumbuh 3,2% YoY. Bank sentral mencatat, kenaikan nilai utang itu terutama didorong aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional.
Denny menegaskan, ULN publik diarahkan untuk mendukung pembiayaan sektor produktif.
Berdasarkan sektornya, ULN pemerintah dimanfaatkan untuk Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (22% dari total ULN pemerintah); Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib (20,7%); Jasa Pendidikan (16,2%); Konstruksi (11,5%); hingga Transportasi dan Pergudangan (8,5%).
Bank sentral menilai posisi ULN pemerintah relatif aman dan terkendali. Alasannya, hampir seluruh ULN pemerintah merupakan utang jangka panjang.
“Pemerintah tetap berkomitmen untuk menjaga kredibilitas dengan memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga utang secara tepat waktu, serta mengelola ULN secara pruden, terukur, dan fleksibel untuk mewujudkan pembiayaan yang efisien dan optimal,” paparnya.
ULN Swasta Kontraksi
Sebaliknya, ULN swasta mencapai US$194,6 miliar atau terkontraksi 1,2% YoY. Denny menjelaskan, penurunan itu dipengaruhi oleh kontraksi ULN kelompok peminjam bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations) sebesar 1,4% YoY, dan kelompok peminjam lembaga keuangan (financial corporations) sebesar 0,4% YoY.
Berdasarkan sektor ekonomi, pangsa ULN swasta terbesar berasal dari Sektor Industri Pengolahan; Jasa Keuangan dan Asuransi; Pengadaan Listrik dan Gas; serta Pertambangan dan Penggalian.
Pangsa keempat sektor itu mencapai 80,6% dari total ULN swasta. Denny menyatakan, ULN swasta didominasi oleh utang jangka panjang.
Sejalan dengan itu, rasio ULN Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) menjadi 30,7% per Juli 2026.
Angka itu pun didominasi oleh ULN jangka panjang, meski angka pastinya tidak disebutkan.
“Dalam rangka menjaga agar struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN. Indonesia akan terus mengoptimalkan peran ULN untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan,” tutup Denny.













