GMP 2026: UMKM Kepri Naik Kelas, Budaya Melayu Jadi Mesin Ekonomi

Salah satu potensi tersebut adalah, kain songket dan tenun dengan beragam motif khas.

Jika kain tradisional tersebut dipadukan dengan desain modern dan diolah menjadi produk fesyen, nilai budaya yang terkandung di dalamnya dapat meningkat menjadi nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Rantai produksinya juga dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru, mulai dari penenun, penjahit, hingga desainer, sebelum akhirnya menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah lebih besar.

“Memang tidak mudah, tapi kami lihat ada pencapaian-pencapaian yang membuat kita juga yakin bahwa ini adalah salah satu upaya yang perlu terus didorong,” ujar Rony.

Ia menegaskan, sinergi dan kolaborasi antarpihak akan terus diperkuat untuk mendorong UMKM Kepri berkembang dan mencapai hasil yang maksimal.

Di tempat yang sama, Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Kepri, Misni, juga menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan GMP 2026.

BACA JUGA:  Suku Bunga 1 Persen! Ultimatum Trump ke The Fed

Kehadiran para tamu undangan, menurutnya, menjadi bagian dari dukungan bersama terhadap pembangunan UMKM di Provinsi Kepri.

Pelaksanaan GMP 2026 sekaligus memperkuat upaya menjadikan UMKM dan warisan budaya Melayu, sebagai bagian dari transformasi ekonomi daerah yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Dengan melibatkan tujuh kabupaten/kota, kegiatan ini diharapkan tidak hanya memperkenalkan produk UMKM Kepri, tetapi juga membuka peluang transaksi dan pasar yang lebih luas, termasuk pasar internasional melalui penguatan ekosistem pembayaran digital dan QRIS Cross Border.

Ekonomi Kepri Tumbuh Kuat

Seperti diketahui, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau (BI Kepri) kembali menyelenggarakan Gebyar Melayu Pesisir (GMP) 2026 pada tanggal 14–20 September 2026 di K-Square Mall, Batam.

BACA JUGA:  Krisis Komponen Ubah Strategi Apple: iPhone 18 Pro Didahulukan, Model Standar Mundur ke 2027

Mengusung tema “Penguatan Warisan Melayu untuk Transformasi Ekonomi yang Inklusif dan Berkelanjutan.”

Melalui GMP 2026, BI Kepri mendorong penguatan warisan budaya Melayu sebagai salah satu sumber penciptaan nilai tambah ekonomi melalui pengembangan UMKM, ekonomi kreatif, kuliner, fesyen, dan pariwisata.

Penyelenggaraan GMP 2026 juga menjadi bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi Kepri yang tetap kuat dan semakin inklusif.

Pada triwulan II 2026, perekonomian Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) tetap tumbuh kuat sebesar 6,99% (yoy).

Angka ini termoderasi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 7,04% (yoy), namun tercatat masih yang tertinggi di Sumatera.

Capaian ini juga lebih baik dibanding pertumbuhan Sumatera sebesar 5,06% (yoy). Kinerja positif tersebut terutama ditopang oleh sektor industri pengolahan, konstruksi, pertambangan dan penggalian, serta perdagangan besar dan eceran.

BACA JUGA:  Rp 49,8 Triliun Mengendap: Menkeu Purbaya Minta Restu DPR untuk 30 Program

Adapun dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Kepri pada triwulan II 2026 didorong oleh pertumbuhan positif pada Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 24,08% (yoy). Capaian itu didukung oleh meningkatnya aktivitas investasi data center di Batam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *