Pelni, ASDP, Pelindo: Integrasi yang Tak Kunjung Terwujud

KEPRI TIME – Wacana pembentukan holding BUMN sektor maritim menggabungkan PT Pelni, PT ASDP Indonesia Ferry, dan PT Pelindo dalam satu entitas bisnis sudah digaungkan sejak setahun lalu. Kini gaung itu redup.

Informasi yang dihimpun redaksi menyebutkan, pemerintah bersama BPI Danantara dan perwakilan ketiga perusahaan terus menggelar kajian. Namun, titik temu belum juga muncul.

Padahal, penggabungan ketiga BUMN itu dinilai mampu memperkuat platform maritim dan logistik nasional. Bukan hanya untuk menghadapi tantangan zaman, melainkan juga mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

Begitu kata praktisi kepelabuhanan dan logistik nasional, Bambang Sabekti, kepada RMOL di Jakarta, Senin, 28 September 2026.

“Saya setuju jika Pelni dan ASDP ditempatkan di bawah Pelindo. Tetapi saya melihatnya bukan semata-mata sebagai aksi korporasi atau restrukturisasi BUMN. Ini harus dilihat sebagai upaya membangun platform maritim dan logistik nasional,” ujar Bambang.

BACA JUGA:  Banjir Bandang Nepal: 384 Hilang, Kemlu RI Pantau Ketat WNI

Menurutnya, Indonesia memiliki jaringan pelabuhan, kapal, penyeberangan, dan konektivitas antarpulau yang sangat besar. Masalahnya, selama ini mata rantai itu dikelola secara terpisah.

“Akibatnya, kita belum selalu mendapatkan nilai maksimum dari aset dan jaringan yang sebenarnya sudah kita miliki,” ungkap dia.

ASDP Punya Pelabuhan, Pelni Miliki Jaringan Angkutan

Bambang menyebut Pelindo mempunyai jaringan pelabuhan dan terminal. Sementara Pelni memiliki jaringan angkutan laut penumpang sekaligus bisnis angkutan barang dan logistik.

Adapun ASDP mempunyai jaringan penyeberangan Ro-Ro, pelabuhan penyeberangan, serta bisnis yang terkait dengan kendaraan dan logistik.

“Kalau ketiganya berada dalam satu kelompok, peluang sinerginya jauh lebih besar. Bukan hanya berbagi aset, tetapi dapat mengintegrasikan jaringan, perencanaan kapasitas, data, pelayanan pelanggan, konektivitas antarmoda, sampai pengembangan bisnis logistik,” jelasnya.

BACA JUGA:  Kemenimipas Tepati Janji: 82 WNI Dideportasi dari Malaysia

Hal ini penting, lanjut dia, karena nilai ekonomi dalam transportasi tidak hanya diciptakan oleh kapal atau pelabuhan secara sendiri-sendiri. Nilai terbesar justru muncul ketika seluruh mata rantai perjalanan barang dan orang tersambung dengan baik.

“Saya melihat ini sebagai kesempatan untuk mengubah pendekatan kita dari sekadar mengelola perusahaan menjadi mengelola ekosistem,” tegasnya.

“Dan yang paling penting, integrasi ini harus mempunyai target yang jelas: biaya logistik turun, konektivitas antarpulau meningkat, utilisasi aset negara lebih optimal, pelayanan masyarakat membaik, dan pada akhirnya daya saing ekonomi Indonesia meningkat,” sambung Bambang.

Masih kata dia, wacana ini jangan hanya berhenti pada Pelni dan ASDP masuk ke Pelindo. Bambang berharap lahir satu kekuatan baru yang mampu mengintegrasikan pelabuhan, pelayaran, penyeberangan, dan logistik Indonesia.

BACA JUGA:  Viral Penganiayaan Awak Kapal, KM Maulana 23 Diciduk Tim Patroli PSDKP di Dobo

“Kalau itu yang menjadi desainnya, maka restrukturisasi ini bukan sekadar mengubah struktur BUMN. Ini bisa menjadi langkah strategis untuk membangun ekosistem maritim dan logistik nasional,” pungkasnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *