5 Investor Tiongkok yang Menggurita di Indonesia

KEPRI TIME – Indonesia bukan lagi sekadar pasar. Bangsa ini kini menjadi medan utama ekspansi modal Tiongkok. Raksasa-raksasa Negeri Tirai Bambu tak cuma membidik konsumen, tetapi mulai menancapkan pabrik, menggarap hilirisasi, hingga meracik baterai kendaraan listrik.

Dari nikel sampai teknologi digital, mereka masuk ke sektor-sektor strategis. Berikut lima perusahaan Tiongkok dengan jejak investasi paling besar di Indonesia.

  1. BYD: Pabrik Listrik di Subang

Nilai tanam modalnya tembus US$ 1,3 miliar, setara Rp 19,5 triliun. Pabrik itu dirancang untuk menyemburkan 150.000 kendaraan per tahun.

Satu langkah yang mengubah posisi BYD dari penjual, menjadi produsen lokal.

  1. Huawei: Bukan Cuma Jualan Ponsel
BACA JUGA:  Laba Melonjak 24 Kali Lipat, Investor Asing Serbu Saham Gudang Garam

Alokasi untuk penelitian dan pengembangan di Indonesia menyentuh 192,3 juta yuan.

Di luar negeri, Huawei mengantongi 165.000 paten aktif. Angka itu menunjukkan, mereka bukan sekadar pemain, tapi arsitek lanskap teknologi global.

  1. CATL: Menggenggam Jantung Baterai

Nilai proyeknya mencengangkan: US$ 6 miliar atau sekitar Rp 96 triliun. Rantai industrinya utuh, dari tambang nikel, pengolahan, bahan baku, sel baterai, sampai daur ulang.

Lokasi penyebarannya merata, diantaranya di Maluku Utara dan Karawang, Jawa Barat.

  1. Jiangsu Delong: Penguasa Smelter Morowali Utara

Catatan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pada 2025 menunjukkan realisasi investasi GNI mencapai Rp 35,8 triliun. Angka itu menempatkan di papan atas pemodal asing sektor hilirisasi.

  1. Tsingshan: Dalang di Balik Megaproyek Morowali
BACA JUGA:  Pendapatan PT Barito Pacific Tbk Melambung, Laba Justru Merosot: Efek One Off Tahun Lalu

Di puncak daftar, Tsingshan berdiri paling perkasa. Perusahaan ini dikenal sebagai penguasa nikel dan baja tahan karang.

Mereka menjadi aktor kunci di balik kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah. Luas kawasan yang terafiliasi dengan aktivitas Tsingshan mencapai lebih dari 5.500 hektare.

Skala itu menggambarkan betapa besar denyut industri di sana, dan betapa eratnya rantai hilirisasi mineral Indonesia kini bergantung pada modal asing.

Masuknya lima pemain ini mengubah peta investasi Tiongkok. Mereka tak lagi datang sekadar menjual produk.

BACA JUGA:  Dari LPS ke Kursi Gubernur Bank Indonesia: Jejak Destry Damayanti dan Masa Depan Rupiah

Kini mereka membangun pabrik, menguasai rantai pasok, mengolah mentah menjadi jadi, bahkan meracik teknologi masa depan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *