KEPRI TIME – Erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) memaksa kantong maskapai penerbangan merugi hingga Rp19 miliar per hari. Asosiasi maskapai nasional, INACA, membeberkan kerugian akibat pembatalan.
“Dampak abu vulkanik memukul dua sisi sekaligus,” ujar Sekretaris Jenderal INACA Bayu Sutanto, Selasa (8/9). “Pendapatan hilang, biaya tetap naik”.
Bayu membuat simulasi untuk skenario gangguan sedang di dua titik: Bandara Soekarno-Hatta (CGK) dan Bandara Radin Inten II (TKG), Lampung. Dengan asumsi 30 hingga 50 penerbangan dibatalkan, pendapatan yang melayang mencapai Rp8 miliar hingga Rp15 miliar sehari.
Belum cukup. Biaya operasional tambahan bahan bakar, gaji kru, parkir pesawat menyusul Rp1,5 miliar hingga Rp3 miliar. Belum lagi kompensasi penumpang yang harus digelontorkan Rp500 juta sampai Rp1,2 miliar.
Totalnya? Rp10 miliar hingga Rp19 miliar menguap dalam 24 jam. Jika gangguan berlangsung seminggu, kerugian menembus Rp70 miliar hingga Rp130 miliar.
“Itu belum termasuk ongkos reputasi dan booking masa depan yang hilang,” tegas Bayu.
Komponen terbesar berasal dari pendapatan yang hangus. “Kursi sudah laku, pesawat tak terbang, revenue langsung lenyap. Refund menguras kas,” katanya. Porsi kerugian ini mencapai 50-60 persen dari total.
Namun biaya tetap tetap menggunung. Depresiasi pesawat dan sewa leasing terus berjalan meski roda tak berputar. Bahan bakar ekstra untuk rute memutar dan biaya parkir di bandara alternatif ikut menambah tekanan.
Gangguan jadwal juga merembet ke penerbangan berikutnya. Satu pesawat yang tertahan di Jakarta dapat mengganggu tiga hingga empat rute selanjutnya. Akibatnya, tingkat okupansi penerbangan sore dan malam ikut tertekan.
Dari sisi teknis, abu vulkanik memaksa inspeksi mesin dengan metode borescope. Bayu memperkirakan biayanya mencapai US$20 ribu hingga US$50 ribu per mesin atau setara Rp352,6 juta sampai Rp881,5 juta (kurs Rp17.630 per dolar AS).
INACA membagi dampak operasional menjadi tiga skenario, pembatalan, penundaan (holding), dan pengalihan rute. Ketiganya bergantung pada sebaran abu yang terpantau lewat Volcanic Ash Advisory (VAA) dan Notice to Airmen (NOTAM).
Pembatalan terjadi bila konsentrasi abu di jalur penerbangan melampaui batas aman. Rute yang paling rentan, yaitu Jakarta-Lampung, Jakarta-Batam, Jakarta-Pontianak, serta penerbangan dari ibu kota menuju selatan dan barat. Bandara Lampung menjadi titik paling kritis, walaupun jaraknya hanya 150 kilometer dari GAK.
Skenario penundaan diperkirakan paling dominan. Maskapai menunggu jalur aman sambil berkoordinasi dengan AirNav untuk mencari celah alternatif. Durasi tunda yaitu satu hingga tiga jam, rata-rata 60-120 menit di Jakarta pada pagi hingga sore.
Maskapai Keluhkan Biaya Operasional
Untuk penerbangan yang dialihkan, rute internasional menuju Australia via selatan serta sejumlah jalur menuju Lampung, Bengkulu, dan Palembang bakal diarahkan ke utara Pulau Jawa.
Tambahan waktu tempuh, yaitu 20-40 menit. Kebutuhan bahan bakar otomatis membengkak.
Dengan status Siaga dan VAA di level Orange, Bayu memproyeksikan 15-25 persen penerbangan dari Jakarta dan 40-60 persen dari Lampung berpotensi terganggu setiap hari.
Lanjut Bayu, dampak bisa meluas jika erupsi berkepanjangan. Perubahan arah angin ke barat dapat menjangkau Halim Perdanakusuma dan Bandung. Jika bergerak ke selatan, Denpasar dan Lombok ikut terancam.
Gangguan lebih dari tiga hari berpotensi menekan minat perjalanan ke Lampung, Banten, dan Jakarta.
Untuk penerbangan internasional, maskapai asing bisa menghindari wilayah udara terdampak. Konektivitas dan kargo ikut tersendat.
“Jika erupsi dan sebaran abu berlangsung lebih dari lima hari, dampaknya mulai sistemik,” kata Bayu.
“Kerugian ekonomi bisa menembus Rp100 miliar lebih dan menggerus target kuartal III-IV maskapai,” tambahnya.
Sebelumnya, Garuda Indonesia telah membatalkan seluruh penerbangan dari dan menuju Jakarta, Bandung, dan Lampung hingga Senin (7/9) pukul 12.00 WIB. Penumpang terdampak diberi opsi perubahan jadwal atau pengembalian dana penuh.
Delapan bandara di sekitar GAK sempat ditutup dengan waktu berbeda, Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II, Husein Sastranegara, Budiarto Curug, Pondok Cabe, Taufik Kiemas, dan Atung Bungsu.
Kementerian Perhubungan menyiagakan Bandara Kertajati, Ahmad Yani Semarang, dan Juanda Surabaya sebagai alternatif pendaratan. Langkah antisipasi di tengah kepungan abu yang belum menunjukkan tanda reda.***













