KEPRI TIME – Sebuah poster bertajuk Kabinet Tangguh mendadak viral dan membanjiri linimasa media sosial. Gambar tersebut dengan berani mencantumkan nama Dedy Mulyadi sebagai Presiden, dan Basuki Tjahaja Purnama, atau Ahok, sebagai Wakil Presiden untuk periode 2029-2034.
Poster Kabinet Tangguh itu bukan hanya Presiden dan Wakil Presiden saja, tapi juga ada susunan menteri.
Kemunculannya poster Kabinet Tangguh sontak memantik beragam reaksi, namun yang paling menyita perhatian adalah respons tajam dari kritikus pendidikan, Darmaningtyas.
Baginya, daftar kabinet yang beredar itu bukan produk iseng semata. Ia membacanya sebagai termometer politik yang mengukur suhu kekecewaan publik terhadap jalannya pemerintahan saat ini.
“Ini mulai beredar sebagai kreativitas netizen, yang sekaligus menjadi ekspresi ketidakpuasan terhadap pemerintahan yang ada,” tulis Darmaningtyas melalui akun X, Senin kemarin.
Lebih lanjut, ia menyoroti keanehan fenomena ini. Sepanjang ingatannya, baru kali ini di tengah kepemimpinan yang sah, warga negara berani merancang komposisi kabinet tandingan secara terang-terangan.
“Baru kali ini pada masa kepemimpinan yang sah muncul daftar Menteri Kabinet Bayangan dan Kabinet Tangguh,” sambungnya.
Jika ditilik, susunan dalam poster tersebut memang terstruktur dan mengalokasikan tokoh-tokoh nasional ke kursi-kursi strategis.
Setelah Dedy Mulyadi dan Ahok di puncak, nama Herman Deru turut dicantumkan sebagai Menteri Sekretaris Negara.
Di tingkat koordinator, posisi Menko Polhukam diduduki oleh Mahfud MD, sementara Bambang Brodjonegoro ditempatkan sebagai Menko Perekonomian.
Tak ketinggalan, Anies Baswedan dipercaya sebagai Menko Pembangunan Manusia dan SDM, sedangkan Agus Harimurti Yudhoyono mengisi posisi Menko Pertahanan, Keamanan, dan Strategis.
Jajaran Mentereng di Kabinet Tangguh
Jajaran kementerian teknis pun tak kalah mentereng, dengan Gatot Nurmantyo sebagai Menteri Pertahanan, Purbaya Yudhi Sadewa di kursi Keuangan, serta Thomas Trikasih Lembong yang menggenggam jabatan Menteri Perdagangan, Investasi, dan Hilirisasi.
Di sektor pangan, nama Andi Amran Sulaiman muncul sebagai Menteri Pertanian dan Ketahanan Pangan, sementara Susi Pudjiastuti kembali ditempatkan sebagai Menteri Kelautan dan Ekonomi Maritim.
Poster itu pun masih memuat deretan nama lain, mulai dari Panut Mulyono, Tjandra Yoga Aditama, Suyanto, Tandiyo Rahayu, Ganjar Pranowo, Retno L.P. Marsudi, Tri Rismaharini, hingga Wishnutama Kusubandio.
Rangkaian nama diakhiri dengan Sherli Joanda, Emil Salim, Adian Yusak Napitupulu, Abraham Samad, Nasaruddin Umar, Almuazzammil Yusuf, Rocky Gerung, serta Anindya Novyan Bakrie yang diproyeksikan sebagai Menteri BUMN.
Meski diproduksi oleh warganet, komposisi ini dinilai memiliki pola dan logika politik yang sulit diabaikan begitu saja oleh penguasa.***













