KEPRI TIME – Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire sedang bergejolak. Dan Indonesia, seperti biasa, berada tepat di atas gunung aktif raksasa itu.
Gunung-gunung api di Tanah Air aktif. Beberapa erupsi. Beberapa meletus. Ini bukan sekadar alarm alam, ini rutinitas geologis yang tak pernah berhenti.
Saat ini, ada 4 gunung aktif di Indonesia yang erupsi di jalur Ring of Fire yakni Gunung Anak Krakatau, Gunung Ibu, Gunung Illi Lewotolok, dan Gunung Semeru.
Ring of Fire bukan nama pertunjukan sirkus. Ia adalah sabuk geologi berbentuk busur setajam pedang, melingkari Samudra Pasifik.
Terbentuk dari benturan lempeng-lempeng tektonik yang saling dorong selama jutaan tahun. Panjangnya 40.250 kilometer dari ujung selatan Amerika Selatan melengkung hingga Selandia Baru.
Indonesia, dengan segala kepulauannya, terselip di tengah-tengahnya. Sebab di sini tiga lempeng raksasa bertemu, yaitu Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Mereka tak pernah damai.
Data Kementerian ESDM mencatat, sekitar 120 gunung api aktif menghiasi peta Nusantara. Jumlah itu menempatkan Indonesia sebagai negara nomor dua paling rawan bencana alam di dunia. Bukan prestasi yang membanggakan. Tapi kenyataan yang harus dihadapi.
Apa pemicu utamanya? Subduksi. Satu lempeng menunjam ke bawah lempeng lain. Di selatan Jawa, Lempeng Indo-Australia dengan keras menunduk ke bawah Lempeng Sunda.
Tekanan membara dan suhu mencair memicu lahirnya magma. Cairan pijar itu lalu merambat naik, menyusup melalui rekahan-rekahan kerak bumi.
Ring of Fire Mulai dari Sumatera hingga Nusa Tenggara
Dari situlah lahir deretan gunung berapi membentang dari ujung Sumatera, menyusuri Jawa, menyeberang ke Bali, hingga ujung Nusa Tenggara. Seperti tulang punggung pulau yang bernapas api.
Tapi tak cuma gunung yang bergerak. Gempa bumi pun pecah di sana-sini dengan kekuatan berbeda. Dan jika dasar laut tiba-tiba patah vertikal, tsunami siap mengamuk. Itulah risiko yang menggantung di atas kepala 270 juta jiwa.
Namun, di balik ancaman, Cincin Api menyimpan berkah. Material vulkanik yang lapuk menyuburkan tanah sawah-sawah di lereng Merapi dan Bromo tak pernah kehilangan hasil.
Panas bumi menjanjikan energi alternatif yang melimpah. Dan bentang alam kawah-kawah eksotis menjadi laboratorium alam sekaligus ladang pariwisata.
Karena itu, berada di atas Ring of Fire bukan kutukan, tapi panggilan untuk waspada. Mitigasi bencana bukan opsi, itu keharusan.
Sistem peringatan dini harus tajam, jalur evakuasi harus jelas, dan edukasi masyarakat tak boleh putus. Sebab di negeri sepanas ini, selamat bukan karena nasib, tapi karena siap.***













