KEPRI TIME – PT Barito Pacific Tbk (BRPT) baru saja membuka buku keuangan untuk paruh pertama 2026. Laporan ini menarik untuk dibedah, terutama di tengah riak pasar yang tengah mengintai setiap gerak grup konglomerat Prajogo Pangestu.
Pada Mei lalu, ketika bursa melakukan perombakan indeks alias rebalancing, tiga saham grup ini BREN, TPIA, dan CUAN harus angkat kaki dari MSCI Global Standard Index. BRPT pun praktis tersisa sebagai satu-satunya wakil yang bertahan di papan global.
Menjelang putaran berikutnya pada 12 Agustus 2026 waktu Eropa, kinerja BRPT di semester pertama menunjukkan kejanggalan yang menggiurkan untuk diulik pendapatan melesat bagai roket, tetapi laba bersihnya justru datar kembali ke permukaan tanah.
Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, total pendapatan BRPT menembus 5,69 miliar dolar AS. Angka ini meroket dibandingkan 3,23 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun lalu.
Namun, di balik gemuruh penjualan, laba bersih yang menjadi hak pemilik entitas induk justru anjlok menjadi 190,48 juta dolar AS, dari sebelumnya 539,82 juta dolar AS pada paruh pertama 2025.
Jangan buru-buru menyimpulkan pelemahan usaha. Penurunan ini lebih merupakan cermin matematis dari efek perbandingan dengan tahun lalu yang labanya terlalu tinggi karena terselip keuntungan sekali tempuh atau akrab disebut one-off gain.
Beban Pokok PT Barito Pacific Tbk Melonjak
Pada semester satu 2025, perusahaan membukukan cuan istimewa sebesar 1,86 miliar dolar AS. Kini, pos yang sama malah mencatatkan kerugian 85,19 juta dolar AS.
Derap ekspansi tentu membutuhkan biaya. Beban pokok pendapatan alias biaya langsung produksi melonjak menjadi 4,47 miliar dolar AS dari 2,97 miliar dolar AS.
Tak hanya itu, beban umum dan administrasi ikut menggerogoti kantong sebesar 129,65 juta dolar AS, sementara beban penyusutan aset merangkak naik ke 223,15 juta dolar AS.
Kenaikan penyusutan ini wajar semata, dimana perusahaan mulai mengoperasikan pabrik-pabrik dan aset baru yang baru rampung dibangun atau diakuisisi.
Singkat kata, BRPT tetap melaju kencang meski laba yang tercetak kini lebih mencerminkan denyut bisnis riil, bukan bunga dari untung-untungan masa lalu.***













