Sinergi Merah Putih: Ujian Awal Destry di BI

KEPRI TIME – Destry Damayanti memulai langkah pertamanya di kursi Gubernur Bank Indonesia dengan membawa satu bendera, yaitu Sinergi Merah Putih. Bukan sekadar semboyan.

Di tengah desakan ekonomi yang menggebu dan badai global yang belum reda, ia menyampaikan pesan tegas, menjaga negeri ini bukan kerja sendiri, melainkan kerja bersama.

Bank Indonesia memang memegang trisula mandat: menjaga rupiah, melancarkan sistem pembayaran, dan ikut menahan getaran sistem keuangan.

Namun, satu fakta tak terbantahkan, ampuhnya kebijakan moneter sangat bergantung pada disiplin fiskal, ketangguhan sektor keuangan, denyut dunia usaha, dan kemampuan pemerintah membedah soal-soal struktural yang mengakar.

Ambil contoh inflasi pangan. Suku bunga naik tak otomatis meredam gejolak harga. Sumber masalah kerap berada di pangkal, produksi tersendat, distribusi putus, tata niaga kusut, atau cuaca yang tak menentu. Serupa dengan kredit perbankan.

BACA JUGA:  Bangkok di Depan Mata: Transnusa Genjot Ekspansi Regional Lewat Rute Anyar

Banjir likuiditas tak lantas mengalir deras ke sektor riil jika dunia usaha masih diliputi ketidakpastian aturan, lesunya permintaan, minimnya proyek sehat, dan bunga pinjaman yang masih menusuk.

Maka, di situlah letak denyut Sinergi Merah Putih. Tapi pertanyaan besarnya, setelah semangat itu berkobar, apa yang paling mendesak untuk dikawal di awal masa jabatan Destry?

Jaga Kredibilitas, Itu Harga Mati

Titik tolaknya sederhana tapi berat, kredibilitas dan kemerdekaan BI tak bisa ditawar. Ingat, sinergi bukanlah ajang menyamakan suara, apalagi menjadikan suku bunga sebagai kendaraan politik jangka pendek.

BACA JUGA:  OJK Makin Galak: 11 BPR Dibubarkan Hingga Agustus

Koordinasi dengan pemerintah tetap penting, tapi keputusan tentang bunga, stabilisasi rupiah, dan selang likuiditas harus berpijak pada data, berorientasi ke depan, dan dimusyawarahkan mulus di meja Dewan Gubernur.

Adakalanya, benturan pandangan antara fiskal dan moneter justru perkasa. Bukan tanda retak. Di situ kita baca bahwa masing-masing garda tengah menjalankan amanatnya dengan baik. Sikap jelas dari awal akan memupuk keyakinan pasar.

Sebab, mata pelaku uang akan terus mengintip, apakah ada perubahan signifikan pada cara BI merespons inflasi, mempertahankan nilai tukar, dan menyikapi derasnya arus modal?

Sebab, kredibilitas bank sentral adalah fondasi yang memengaruhi bagaimana ekspektasi inflasi terbentuk, bagaimana premi risiko dihitung, bagaimana imbal hasil surat utang ditentukan, dan bagaimana keputusan investasi diambil.

BACA JUGA:  5 Investor Tiongkok yang Menggurita di Indonesia

Jika kredibilitas itu luntur, maka dorongan pertumbuhan berisiko menjadi bumerang, rupiah merosot, biaya dana membumbung, dan semua kerja keras sirna sia-sia.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *