KEPRI TIME – Pemerintah mematok 2029 sebagai tahun implementasi BBM campuran etanol 20 persen, atau E20. Langkah ini masuk dalam strategi besar mengerek ketahanan energi nasional.
Deputi Koordinasi ESDM Kemenko Perekonomian, Elen Setiadi, menegaskan, pemanfaatan E20 bukan sekadar wacana.
“Maka 2029 itu etanol campuran 20 persen sudah bisa kita laksanakan,” ujarnya di Jakarta, Rabu (13/8/2026).
Saat ini, kadar etanol dalam BBM masih mentok di lima persen. Dari situ, pemerintah melompat ke target empat kali lipat dalam empat tahun ke depan.
Agar ambisi itu tak tinggal angka, pemerintah memperluas keran bahan baku etanol dari komoditas dalam negeri, yaitu tebu dan singkong.
Salah satu sumber andalan adalah tetes tebu dari program food estate, termasuk yang digarap di Papua. Dengan begitu, energi tak lagi bergantung pada ladang impor.
Bagi Elen, pengembangan ekosistem energi adalah kunci memacu industrialisasi nasional. Ketahanan energi, katanya, beririsan langsung dengan umur panjang sektor industri.
“Arahan Presiden sudah jelas Astacita bahwa ketahanan energi itu menjadi bagian penting. Kemudian ada bagian kedua adalah hilirisasinya,” tuturnya.
Dinamika global termasuk konflik berkepanjangan di Timur Tengah menjadi alarm bagi Indonesia.
Elen menilai, setiap gejolak di kawasan produsen minyak adalah pengingat keras: sudah waktunya negeri ini berdiri di atas kaki sendiri.
Elen mencontohkan program Biodiesel 50 (B50) sebagai bukti nyata. Lewat B50, Indonesia menekan ketergantungan pada solar impor. Kini, pola yang sama hendak diterapkan pada sektor BBM melalui E20.
Di sisi lain, pemerintah tetap menjaga harga BBM subsidi, baik solar maupun pertalite, agar tak membebani rakyat.
“Presiden sudah menjamin sampai akhir tahun harga untuk BBM bersubsidi, solar maupun pertalite tetap dijaga pada harga sekarang,” pungkas Elen.***













