KEPRI TIME – Pemerintah tak main-main memperkuat pengawasan kelautan. Buktinya, pembangunan kapal pengawas PSDKP sepanjang 61 meter resmi dimulai.
Prosesi Keel Laying atau peletakan lunas kapal PSDKP itu berlangsung di Galangan PT Bandar Abadi, Tanjung Uncang, Batam, Kamis (27/8) kemarin.
Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan, Laksdya TNI (Purn.) Didit Herdiawan Ashaf, langsung turun tangan memimpin acara Keel Laying kapal PSDKP tersebut.
Di sisinya, hadir pula Asisten Logistik Komandan Kodaeral IV, Kolonel Laut (T) Herry Yunaldi, S.T., M.Tr.Hanla. Kehadiran aparat militer ini sekaligus menegaskan: pengawasan laut bukan sekadar urusan sipil, melainkan bagian dari pertahanan negara.
Keel Laying bukanlah seremonial belaka. Tahapan ini adalah awal mula konstruksi badan kapal. Ia menjadi fondasi pertama sebelum lambung kapal menjulang, mesin terpasang, dan akhirnya kapal siap meluncur mengarungi gelombang.
Dengan kata lain, ini adalah denyut pertama dari kelahiran kapal pengawas anyar.
Lantas, mengapa kapal ini penting? Sebab, tugas PSDKP kian berat. Wilayah perairan Indonesia membentang luas jalur pelayaran internasional pun padat lalu lintas.
Kapal 16 Meter PSDKP Memburu Pencuri Ikan
Kapasitas pengawasan yang mumpuni menjadi harga mati. Kapal 61 meter ini nantinya akan menjadi mata dan telinga di tengah samudra, terutama untuk memburu dan menindak segala bentuk pelanggaran.
Terutama dari pencurian ikan (illegal fishing), hingga praktik penangkapan yang tak dilaporkan dan tak sesuai aturan (IUU fishing).
Tak hanya itu, kehadiran kapal ini juga menjadi pernyataan tegas atas kedaulatan maritim. Penguatan armada pengawasan, kemudian, bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Sebab, laut yang kaya raya juga rawan dieksploitasi. Karenanya, sinergi antara Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan unsur pertahanan seperti Kodaeral IV menjadi kunci.
Kolaborasi ini diharapkan mampu menciptakan deterrence effect yang kuat bagi para pelanggar.
Di sisi lain, proyek ini juga membawa berkah bagi industri dalam negeri. Galangan kapal nasional, seperti PT Bandar Abadi, kembali menunjukkan taringnya.
Mereka tak hanya sekadar membangun, tetapi juga turut menjaga denyut ekonomi maritim. Dengan bertambahnya armada, pemerintah pun optimistis.
Pengawasan sumber daya ikan akan lebih efektif, keamanan perairan lebih terjaga, dan kedaulatan Indonesia sebagai negara kepulauan kian kokoh. Laut dijaga, ikan terjaga, negeri pun makmur.***













