Laba Melonjak 24 Kali Lipat, Investor Asing Serbu Saham Gudang Garam

KEPRI TIME – Saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) tiba-tiba jadi primadona di pasar modal Senin kemarin. Aksi borong investor asing mengalir deras, tercatat net buy mencapai Rp37,83 miliar.

Tak pelak, harga saham emiten rokok raksasa itu pun terdorong 6,53% ke level Rp20.800 per saham. Volume transaksi pun ikut meroket, menyentuh 4,28 juta saham dengan nilai Rp87,66 miliar.

Momen ini bertepatan dengan masa berlaku hasil tinjauan indeks MSCI per Agustus 2026. Meski hanya bertahan di kategori Small Cap, posisi GGRM di peta global tetap diperhitungkan.

Pasar sedang membaca sinyal besar, dari kinerja keuangan yang mendadak menyala.

Analis MNC Sekuritas, Catherine Florencia M, langsung merevisi tajam proyeksi laba bersih Gudang Garam.

Untuk tahun ini, ia menaikkan estimasi 32,3%, sementara tahun depan ikut terdongkrak 20,9%. “Itu semua karena kinerja semester satu jauh melampaui ekspektasi,” ujarnya.

BACA JUGA:  Menyambut Sensus Ekonomi 2026, BP Batam: Menyediakan Data yang Akurat

Buktinya, GGRM membukukan laba bersih Rp3 triliun, atau melonjak luar biasa 2.440,2% dibanding periode sama tahun lalu.

Realisasi laba itu bahkan telah mencapai 64,1% dari proyeksi MNC Sekuritas dan 68,5% dari estimasi konsensus untuk 2026. Angka yang hampir pasti membuat target tahunan mudah terlampaui.

Anehnya, lonjakan laba justru terjadi di tengah pendapatan yang terus turun. Semester pertama, penjualan GGRM merosot 7,2% menjadi Rp41,2 triliun karena permintaan inti masih loyo.

Tapi di sinilah kejutan terjadi, efisiensi biaya berjalan brutal. Harga pokok penjualan turun 13,3%, beban cukai menyusut 14%, dan beban operasional ambrol 33,8%. Efisiensi tenaga kerja juga masif, jumlah karyawan per Juni 2026 tinggal 21.100 orang, turun drastis dari 27.000 orang pada Juni 2025.

“Beban pokok turun lebih cepat daripada pendapatan, komposisi produk pun membaik. Itu yang menolong margin pulih. Ditambah penurunan opex, perbaikan langsung tercermin di laba bersih,” jelas Catherine.

BACA JUGA:  Solikin M Juhro Resmi Jadi Deputi Gubernur BI, DPR Loloskan Fit and Proper Test

MNC Sekuritas menilai struktur biaya GGRM kini semakin ramping. Ini menjadi tulang punggung utama pemulihan laba.

Walau Saham Gudang Garam di Borong, Purbaya: Tarif Cukai Takkan Berubah

Dari sisi kebijakan, angin segar berembus dari pemerintah. Menteri Keuangan Purbaya mengindikasikan tarif Cukai Hasil Tembakau tidak akan berubah pada 2027.

Fokus kini bergeser ke stabilitas industri dan pengawasan yang lebih ketat. Catherine menilai kebijakan ini bisa menekan tekanan terhadap profitabilitas GGRM.

Meski laba meledak, pemulihan permintaan rokok masih jadi tanda tanya. Pendapatan tetap turun karena tekanan pada portofolio produk utama.

MNC Sekuritas pun tetap hati-hati, menilai pertumbuhan laba saat ini lebih banyak ditopang efisiensi ketimbang ekspansi pendapatan.

BACA JUGA:  Dari LPS ke Kursi Gubernur Bank Indonesia: Jejak Destry Damayanti dan Masa Depan Rupiah

Karena itu, keberhasilan menjaga efisiensi dan stabilitas cukai dinilai krusial bagi keberlanjutan laba ke depan.

Optimisme pun menyelinap. MNC Sekuritas menaikkan rekomendasi saham GGRM dari hold menjadi buy, dengan target harga Rp24.700 per saham.

Target ini mencerminkan rasio PE 10,2 kali untuk 2026 dan 8,9 kali untuk 2027, serta PBV 0,7 kali untuk kedua tahun.

“Perbaikan laba berkat efisiensi dan imbal hasil dividen yang menarik masih menyisakan ruang kenaikan,” pungkas Catherine.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *