Rupiah Hari Ini Terus Menyusut, Geopolitik dan Inflasi AS Jadi Penentu

KEPRI TIME – Nilai tukar rupiah kembali melorot di awal perdagangan Rabu (12/8/2026). Mata uang Garuda melemah 8 poin atau 0,04 persen ke posisi Rp17.869 per dolar Amerika Serikat, dari sebelumnya Rp17.861.

Pergerakan rupiah masih terombang-ambing. Lukman Leong, analis mata uang Doo Financial Futures, menilai pasar belum berani mengambil langkah besar.

Sebab, perkembangan geopolitik di Timur Tengah—terutama ketegangan Iran dan AS—masih menyisakan tanda tanya.

“Rupiah bergerak konsolidatif. Sinyal dari Timteng masih simpang-siur,” ujar Lukman, Rabu.

Perhatian utama tertuju pada Selat Hormuz. Jalur strategis itu menjadi pusat cemas pelaku pasar. Situasi di sana bisa mengubah peta perdagangan global kapan saja.

BACA JUGA:  Menyambut Sensus Ekonomi 2026, BP Batam: Menyediakan Data yang Akurat

Mengutip Anadolu, Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, menyebut Iran dan AS hampir mencapai kata sepakat. Namun, kebuntuan soal Selat Hormuz belum terurai. Pakistan pun disebut turun tangan menawarkan usulan baru ke Teheran.

Namun, Iran tak tinggal diam. Mereka menegaskan Hormuz tidak akan dibuka sebelum tuntutan mereka dipenuhi. Di sisi lain, laporan dari Pakistan justru menunjukkan secercah optimisme bahwa proses damai mulai berdenyut lagi.

“Ada sinyal positif, tapi Iran tetap pada pendiriannya,” kata Lukman.

Pasar pun dibuat was-was. Belum reda ketegangan geopolitik, pelaku pasar kini juga menahan napas menjelang rilis inflasi AS, Rabu malam waktu Indonesia. Data itu diyakini menjadi penunjuk arah kebijakan The Fed selanjutnya.

BACA JUGA:  Dony Oskaria Pede Laba Danantara Tembus Rp360 Triliun, Dua Kali Lipat Temasek

Lukman memperkirakan inflasi utama AS turun dari 2,6 persen menjadi 2,5 persen secara tahunan. Inflasi inti pun diprediksi merosot dari 3,5 persen ke 3,4 persen.

“Inflasi utama dan inti sama-sama akan turun,” tegasnya.

Investor, kata Lukman, biasanya menggunakan data ini sebagai kompas. Apakah The Fed akan tetap agresif atau mulai melonggar.

Dari dalam negeri, investor juga mencermati pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI). Namun, Lukman menyebut belum ada kepastian. Satu hal yang jelas: tak ada saham baru yang masuk daftar MSCI kali ini.

BACA JUGA:  Bangkok di Depan Mata: Transnusa Genjot Ekspansi Regional Lewat Rute Anyar

“Pengumuman MSCI masih jadi teka-teki,” ujarnya.

Mempertimbangkan gejolak global, rilis inflasi AS, dan sentimen domestik, Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.750 hingga Rp17.850 per dolar AS.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *