KEPRI TIME – PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) akhirnya mengambil langkah konkret, menyikapi armadanya yang kian uzur. Perusahaan pelat merah itu, menyiapkan pengadaan sembilan kapal baru di tengah membeludaknya permintaan angkutan laut.
Rinciannya, tiga kapal penumpang untuk jalur public service obligation (PSO) dan enam kapal tambahan yang dibiayai mandiri. Tiga kapal PSO itu akan ditopang suntikan Penyertaan Modal Negara (PMN) senilai Rp4 triliun.
Namun angka itu masih jomplang. Total kebutuhan untuk tiga kapal saja menembus Rp4,5 triliun. Kekurangan Rp500 miliar terpaksa Pelni ambil dari kas internal.
“Situasi ini mendesak, mengingat usia kapal-kapal kami. PMN yang kami terima Rp4 triliun, sementara harga kapal Rp4,5 triliun. Sisanya kami tutup sendiri,” kata Direktur Utama Pelni Budi Setyawan Wijaya.
Ketiga kapal anyar itu dirancang untuk menggantikan kapal-kapal tua yang sudah separuh abad mengarungi perairan Nusantara. KM Umsini yang lahir di era 1980-an, KM Lawit buatan 1987, dan KM Tidar dari 1986 akan pensiun.
Namun fakta di lapangan menunjukkan, masih ada sembilan kapal Pelni lain yang usianya sudah melampaui 35 tahun. Dengan kata lain, tambahan tiga unit ini hanya menggaruk permukaan. Peremajaan total masih jauh dari kata usai.
3 Kapal Pelni Siap Tahun 2029
Target Pelni, kapal pertama dari ketiga unit PMN itu mulai berlayar pada Juli 2029. Proses desain tengah berjalan. Pelni sudah menunjuk perancang asal Italia lewat proses tender terbuka.
Mereka berharap dalam tempo 10 bulan ke depan, konstruksi kapal pertama sudah bisa digarap di galangan yang akan ditunjuk.
Sementara untuk enam kapal sisanya, Pelni memilih jalan alternatif. Opsi leasing atau menyewa kapal dari penyedia internasional tengah digodok.
Tak hanya itu, kapal jenis roll-on/roll-off (RoRo) juga masuk dalam rencana ekspansi mereka.
“Kami tidak mau cuma bergantung pada PMN. Ada skema lain yang kami jajaki,” ujar Budi.
Alasannya sederhana, kebutuhan kapal di berbagai rute sudah sangat tinggi, sementara proses membangun kapal baru dari nol memakan waktu bertahun-tahun.
Maka, Pelni mencoba menjalankan dua jalur sekaligus pembangunan dan sewa secara paralel.
“Kami coba barengan,” tegas Budi saat ditanya soal roadmap pengadaan sembilan kapal itu.***













